Lonjakan Titik Panas di September, BPBD Barito Selatan: Kerusakan Ekosistem Makin Parah

IMG-20261016-WA0024

Barito Selatan, // Data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan mencatat lonjakan titik panas yang sangat tajam dari bulan Agustus ke September 2026. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers penanganan karhutla yang digelar di Aula Kantor BPBD, dengan dihadiri para jurnalis. Kepala BPBD Agus In’Yulius dan Kepala Dinas Kesehatan dr. Dadang Baskoro Nugroho menjadi pembicara utama dalam kegiatan ini. Dilaksanakan di aula kantor BPBD, 16/10/2026.

Agus In’Yulius menyampaikan data perbandingan yang menjadi dasar kekhawatiran pemerintah daerah. “Pada bulan Agustus, kami mencatat ada 2.398 titik panas yang terdeteksi. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat di bulan September menjadi 4.965 titik. Peningkatan aktivitas kebakaran ini sebanding dengan semakin luasnya kerusakan hutan dan semakin tebalnya kabut asap yang menyelimuti wilayah Barito Selatan hingga ke wilayah tetangga. Ini adalah tanda bahwa kondisi lingkungan kita sedang terancam serius,” ujar Agus dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa kerugian akibat karhutla tidak hanya bersifat materi, tetapi juga hilangnya keanekaragaman hayati yang sangat berharga. “Hutan kita adalah paru-paru daerah ini dan rumah bagi banyak hewan serta tumbuhan. Jika terus terbakar, maka keseimbangan alam akan rusak dan sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Kami berharap seluruh elemen masyarakat, baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten, saling mengingatkan dan mengawasi agar tidak ada lagi aktivitas pembakaran yang merusak ini,” tambahnya.

Agus juga menegaskan komitmen pemerintah daerah yang terus berjuang meski menghadapi keterbatasan. “Setiap hari tim kami bergerak ke lapangan bersama TNI dan Polri, berjuang melawan api yang tak kunjung padam. Kami sudah tiga kali masuk masa tanggap darurat dan setiap kali itu pula kami berharap ini adalah masa terakhir. Namun harapan itu hanya akan terwujud jika kita semua sadar bahwa kebakaran adalah musuh bersama yang harus dilawan dengan tidak membakar lahan,” tegasnya.

Menyikapi kondisi lingkungan yang makin buruk tersebut, dr. Dadang Baskoro Nugroho mengingatkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat. “Semakin banyak hutan terbakar, semakin beracun udara yang kita hirup. Data pasien kami juga naik drastis di bulan yang sama dengan peningkatan titik panas tersebut. Kasus sesak napas, infeksi saluran pernapasan akut, hingga penyakit kulit makin banyak ditemukan. Bahkan, kita harus berduka atas meninggalnya dua warga kita kemarin akibat dampak asap ini,” ungkap Dadang.

Dadang mengakhiri pemaparannya dengan pesan edukasi agar masyarakat paham cara kerja sistem kesehatan dan cara menjaga diri. “Dengan adanya 12 Puskesmas dan 1 Rumah Sakit, kami siap melayani. Ingatlah, Puskesmas fokus mencegah dan mengedukasi, sedangkan Rumah Sakit fokus mengobati. Jangan menunggu sakit parah baru berobat. Mulai sekarang, lindungi diri dan keluarga dari asap, gunakan masker, jaga kebersihan rumah, dan mari kita berdoa serta berusaha bersama agar bencana karhutla ini segera berlalu dari tanah kita,” tutup Dadang.

( Edi Yanto)